Mahasiswa Hendak Berkontribusi, Wani Piro?

Posted by Kang Hermanto on Rabu, 03 Juli 2013

Selasa (15/11), saya dihubungi panitia Pekan Pengabdian Masyarakat FISIP UPM Probolinggo. Mereka datang ke rumah, sambil membawa selembar surat. Isinya, meminta saya untuk menjadi pembicara di acara tersebut. Tepatnya, saya diminta mengulas soal “Kontribusi Konkret Mahasiswa dalam Pembangunan”. Ini tema menarik, mengingat hari ini era “sekedar” berwacana sudah dianggap usang. Persis seperti motto PLN (Perusahaan Listrik Negara) yang baru, yakni “Kerja! Kerja Kerja!”. Dan saya pikir, mahasiswa harus melakukan hal serupa.

Yap, begitulah. Namun kali ini saya tak akan menguraikan secara terperinci mengenai kontribusi macam apa yang bisa dilakukan mahasiswa dalam pembangunan. Biarlah hal itu menjadi tugas Anda nantinya, wahai para calon sarjana. Di kolom ini saya hanya akan berbicara sekelumit tentang peran alias kedudukan mahasiswa dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Menurut kacamata saya, ini lebih urgen untuk disampaikan dalam forum ini. Agar gagasan tentang kontribusi mahasiswa nantinya lebih terarah dan menyentuh aspek-aspek fundamental.

Yang jelas, mahasiswa itu sudah bukan siswa yang tugasnya hanya belajar. Bukan pula rakyat dan bukan pula pemerintah. Mahasiswa memiliki tempat tersendiri di masyarakat, namun bukan berarti memisahkan diri dari mereka. Ia adalah makhluk intelektual yang berdiri kokoh di atas idealisme dan realita. Nah lo?!

Baiklah, agar lebih gamblang, saya tuliskan sejumlah item berikut. Ini berdasarkan kajian saya atas beberapa literatur. Jadi ada 4 (empat) peran yang HARUS dimainkan oleh mahasiswa. Monggo disimak:

1.  Creator of Change

Mahasiswa selama ini kerap disebut sebagai agen perubahan (agent of change). Padahal, menurut saya, itu tidaklah benar. Sebab dalam defininya, kata ”agen” hanya merujuk bahwa mahasiswa hanyalah sebagai pembantu atau bahkan hanya menjadi objek perubahan, bukan sebagai pencetusnya. Inilah alasan mengapa saat ini peranan mahasiswa banyak yang diboncengi pencetus perubahan lain seperti partai politik, ormas, dan lainnya. Melihat dari kata ”pencetus”, mahasiswa seharusnya dapat bergerak independen, sesuai dengan idealisme mereka.

Ingat, kondisi bangsa ini sekarang tidaklah ideal. Banyak sekali permasalahan bangsa yang ada, mulai dari korupsi, penggusuran, ketidakadilan, dan lain sebagainya. Mahasiswa yang mempunyai idealisme sudah seharusnya berpikir dan bertindak bagaimana mengembalikan kondisi negara menjadi ideal. Sejarah telah membuktikan, bahwa perubahan besar terjadi di tangan generasi muda. Mulai dari zaman nabi, kolonialisme, reformasi, dan lain sebagainya. Maka dari itu, mahasiswa dituntut bukan hanya menjadi agen perubahan saja, melainkan pencetus perubahan itu sendiri yang tentunya ke arah yang lebih baik.

2.  Iron Stock

Peranan mahasiswa yang tak kalah penting adalah sebagai Iron Stock. Artinya, mahasiswa dengan ketangguhan idealismenya, kemampuan dan akhlaq mulianya akan menjadi pengganti generasi sebelumnya. Dapat dikatakan, bahwa mahasiswa adalah aset, cadangan dan harapan bangsa di masa depan. Peran organisasi kampus tentu mempengaruhi kualitas mahasiswa. Kaderasasi yang baik dan penanaman nilai yang baik tentu akan meningkatkan kualitas mahasiswa yang menjadi calon pemimpin masa depan.

Lantas sekarang apa yang bisa kita lakukan dalam memenuhi peran ini? Jawabannya, perkaya diri kita dengan berbagai pengetahuan! Baik itu dari segi keprofesian maupun kemasyarakatan. Dan jangan lupa, pelajari serta lakukan analisa atas berbagai kesalahan yang pernah terjadi di generasi sebelumnya.

3.  Social Control

Peran mahasiswa sebagai kontrol sosial terjadi ketika ada yang tidak beres atau ganjil dalam masyarakat dan pemerintahan. Mahasiswa dengan gagasan dan ilmu yang dimilikinya memiliki peranan menjaga dan memperbaiki nilai dan norma sosial dalam masyarakat. Ingat, mahasiswa itu lahir dari rahim rakyat, dan sudah seyogyanya mahasiswa memiliki peran sosial. Peran yang menjaga dan memperbaiki apa yang salah dalam masyarakat.

Beragam kasus hukum, korupsi dan pendidikan yang merajalela di negeri ini adalah alibi kuat mengapa mahasiswa harus bertindak. Lalu bagaimana cara mahasiswa memainkan peran kontrol sosialnya? Mahasiswa harus menumbuhkan jiwa sosial. Peduli pada keadaan rakyat yang mengalami penderitaan, ketidakadilan dan ketertindasan. Kontrol sosial dapat dilakukan ketika pemerintah mengeluarkan suatu kebijakan yang merugikan rakyat. Maka dari itu mahasiswa bergerak sebagai perwujudan kepedulian terhadap rakyat.

Pergerakan mahasiswa bukan hanya sekedar turun ke jalan saja, melainkan harus lebih substansial lagi yaitu diskusi, kajian dan lain sebagainya. Bukan hanya itu, sifat peduli terhadap rakyat juga dapat ditunjukkan ketika mahasiswa dapat memberikan bantuan baik secara moril dan materil bagi siapa saja yang membutuhkannya.

4.  Moral Force

Moral force atau kekuatan moral adalah peran utama mahasiswa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Lalu mengapa harus moral force? Mahasiswa dalam kehidupannya dituntut untuk dapat memberikan contoh dan teladan yang baik bagi masyarakat. Hal ini menjadi beralasan karena mahasiswa adalah bagian dari masyarakat sebagai kaum terpelajar yang memiliki keberuntungan untuk menempuh pendidikan tinggi.

Kini, peran yang satu ini telah banyak ditinggalkan. Kegiatan mahasiswa didominasi oleh program berbau hedon. Amanat dan tanggung jawab yang telah dipegang oleh mahasiswa sebagai kaum terpelajar seolah ditinggalkan begitu saja. Malah, belakangan ini mahasiswa dicap sebagai biang kisruh. Ya, maklum saja, tawuran dan demonstrasi anarkis kerap mewarnai sepak terjang mereka. Hal ini tentu kontraproduktif.

Wani Piro?

Hmm… Bagaimana mahasiswa, masihkah Anda berhasrat untuk berkontribusi sesuai peran di atas? Kalau ya, wani piro…?

Jangan dikira pertanyaan saya hanya sebuah kelakar. Maklum saja, belakangan istilah wani piromemang merebak. Terlebih untuk mengekspresikan rasa pesimistis akan sesuatu. Tanggapan bernada satire atas hal yang musykil untuk diwujudkan. Ya, saya paham. Ini adalah buah dari budaya koruptif yang sudah jamak.

Tapi sebaliknya, wani piro ala saya adalah sebuah tantangan. Tantangan kepada setiap pribadi mahasiswa untuk membuktikan bahwa dirinya adalah elemen bangsa yang memajukan kebaikan dan mencegah terjadinya keburukan. Seberapa hebatkah kreatifitas Anda untuk menghadirkan perubahan? Seberapa bulatkah tekad Anda dalam mengekspansi wawasan dan mendalami disiplin ilmu? Seberapa besarkah nyali Anda untuk menyuarakan kebenaran dan menginterupsi ketidakbecusan? Dan seberapa kuatkah kepribadian Anda hingga layak dijadikan teladan dan dibanggakan?

Itulah pertanyaan-pertanyaan saya untuk Anda, wahai para mahasiswa… Tak perlu dijawab dengan kata-kata, apalagi retorika panjang yang hanya berbuah bualan belaka. Jawaban yang pas adalah berupa aksi nyata, mulai sekarang. Saya tunggu kontribusi kalian di jagad FISIP UPM Probolinggo. Tunjukkan “oranye”-mu untuk Indonesia yang lebih mensejahterakan! [*]

Disampaikan pada acara Pekan Pengabdian Masyarakat
FISIP UPM Probolinggo di Bremi - Krucil, 19/11/2011.

Previous
« Prev Post

Related Posts

01.40

0 komentar:

Posting Komentar