Ormawa Vakum, Penyakit Menularkah?

Posted by Kang Hermanto on Rabu, 03 Juli 2013

Saya hendak bertutur sedikit tentang realita yang terjadi di kampus antah berantah. Dan berharap hal ini tak terjadi di bumi tempat kita berpijak, UPM (aamiin... gitu dong!).

Yap... tanpa disadari, kevakuman aktifitas organisasi kemahasiswaan (ormawa) di semua level, baik universitas maupun fakultas, menjadi penyakit yang seolah menular dan bersifat turunan. Sepakat atau tidak, itulah faktanya.

Aktifis ormawa acapkali hanya tampak sibuk di 2 (dua) musim saja. Pertama di musim penerimaan mahasiswa baru, dan kedua saat suksesi kepengurusan. Lihat saja, ketika tahun akademik baru tiba, beragam program penyambutan digelar. Di gerbang utama, kita biasanya disuguhi betapa "alay'-nya acara orientasi dan pengenalan kampus (OSPEK) tingkat universitas. Acara yang kerap berunsur perpeloncoan dan menguras banyak energi, pikiran dan uang ini biasanya juga dijadikan ajang "nampang" bagi para panitia yang notabene aktifis (baca: mahasiswa senior). Wkwkwk...

Tak hanya itu, mahasiswa baru lantas diajak mengikuti agenda orientasi lanjutan di tingkat fakultas dan jurusan. Kalau yang ini, acara sering diupayakan ber-setting di alam terbuka dan menginap. Sambil menikmati keindahan panorama alam, aktifis ormawa berupaya memupuk kebersamaan dan men-transfer doktrin atau nilai-nilai kehidupan keluarga fakultas/ jurusan kepada mahasiswa baru.

Setelah agenda penyambutan mahasiswa baru usai, gejala penyakit vakum mulai tampak. Dimulai tidak jelasnya program kerja ormawa dalam rangka pemberdayaan mahasiswa baru hingga tak adanya aktifitas lain setelah itu. Pada level yang lebih akut, aktifis ormawa tiba-tiba menghilang dari peredaran. Biasanya dengan dalih, "lagi sibuk di tempat atau tugas yang lain". Kalau sudah begini, siap-siap memeriksakan diri ke "dokter" deh. Harus ada diagnosa empiris terkait hal ini. :)

Hari berganti minggu, minggu beringsut jadi bulan dan bulan pun beralih jadi tahun. Tak terasa, satu periode kepengurusan yang setahun itu hampir usai sudah. Tapi realisasi program kerja masih jauh dari seharusnya. Di sisi lain, suksesi atau pergantian pengurus ormawa ternyata telah harus dilakukan.

Nah, pada saat-saat seperti ini, para aktifis ormawa mulai menggeliat. Satu per satu, mereka menampakkan batang hidungnya. Sebagai sebuah prestise dan personal branding, memegang tampuk kekuasaan ormawa menjadi hal yang patut diperjuangkan. Terlebih jika ada sekelompok mahasiswa yang selama ini menjadi opposan, ternyata turut mengincar posisi tersebut. Pokoknya, jangan sampai estafet kepemimpinan beralih ke tangan rival alias mahasiswa yang eksis di luar jaringan kelompoknya. Biasanya sih gitu...

Kalau pada saat suskesi kepengurusan ternyata tetap adem ayem saja, berarti penyakit vakumnya beranjak ke stadium yang lebih berat. Kondisi ini akhirnya berakibat pada molornya agenda suksesi dan berbuah ketidakjelasan periode atau masa bhakti kepengurusan. Hhh... Capek deh. :)

Eng ing eng... Yang pasti, penyakit seperti ini boleh saja terjadi pada sebuah periode kepengurusan ormawa. Tapi jangan sampai menjangkiti kepengurusan-kepengurusan berikutnya. Karena penyakit ormawa vakum ini sesungguhnya ternyata bukan penyakit menular. Beneran! :-p [*]

Previous
« Prev Post

Related Posts

01.55

0 komentar:

Posting Komentar