Jokowi - Prabowo dalam Tinjauan Public Speaking

Posted by Kang Hermanto on Selasa, 27 Mei 2014

Kali ini saya hendak menyoroti 2 (dua) sosok yang sedang digadang-gadang sebagai calon Presiden (Capres) RI periode 2014-2019 dari prespektif public speaking. Mereka adalah Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi dan Prabowo Subianto.

Mengapa melihatnya dari aspek public speaking? Alasan utama, karena hal ini bertaut dengan aktifitas profesional yang saya jalani. Yakni sebagai praktisi MC dan Keprotokolan. Alasan lainnya, kepiawaian dalam public speaking menjadi sebuah tuntutan bagi seorang pemimpin. Termasuk Presiden, yang merupakan orang nomor satu di negara ini.

Pidato-pidatonya pasti dinantikan khalayak. Fakta fenomenal bisa kita lihat pada sosok Presiden Soekarno, sang singa podium. Orasinya amat menggugah dan menggerakkan jiwa pendengarnya.

Baiklah, saya akan mengupas pidato Jokowi dan Prabowo di saat deklarasi pencapresan. Kebetulan keduanya digelar live di stasiun TV, dan saya menontonnya.

Jokowi mendeklarasikan pencapresannya di Gedoeng Joeang - Menteng Jakarta. Ia kala itu tampil berbalut baju putih-putih bersama Jusuf Kalla. Setelah menyampaikan salam yang bernada rendah, ia sempat terdiam. Ada jeda cukup lama seolah sedang berpikir tentang apa yang akan disampaikannya.

Selama menyampaikan pidato, saya lihat Jokowi terus berpegangan pada standar mikrofon di depannya. Tangan kiri memegang area mikrofon, sedang tangan kanannya memegang area knop pemutar yang ada di tiang penyangga. Posisinya begitu, dari awal hingga akhir.

Dalam posisi tersebut, tatapan matanya sama sekali tak mengarah ke audiens. Ia memang menghadap ke depan, namun sedikit menunduk. Pun sesekali ia memang tampak menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tatapannya ke arah yang semu.

Wiraga seperti ini sesungguhnya cerminan dari kegagapan komunikasi. Posisi berpengan pada mik yang (sebenarnya) sudah kokoh karena adanya tiang penyangga, menggambarkan jiwa yang was-was, tak tenang dan kurang percaya diri. Seolah ada bayang-bayang ketakutan dan kekhawatiran selama menyampaikan pidato. Emosinya tak lepas.

Menilik konten yang disampaikan, singkat sekali. Ia hanya menyampaikan bahwa semalam Pak JK didapuk jadi pendampingnya. Lantas bertutur bahwa keduanya akan membawa gerakan perubahan di Indonesia. Sudah, itu saja. Sesudahnya, sempat ada jeda. Hingga akhirnya mengucap salam, yang masih dalam nada rendah.

Tepuk tangan tampak di awal sebelum pidato, pada saat penyebutan Jusuf Kalla dan sesudah pidato. Tepuk tangan terkait materi utama pidato tak saya dapati. 

Bagaimana dengan Prabowo? Ia mendeklarasikan pencapresannya di Rumah Polonia - Jakarta. Ia dan Hatta Radjasa juga tampil dalam busana putih-putih. Saat mendapat giliran berpidato, ia kemudian berdiri di tengah kerumunan audiens. Salam pembukanya disampaikan dengan tenang dan berwibawa. Tak ada jeda begitu mencolok antarkalimat yang dilontarkannya.

Selama berpidato, ia menggenggam mikrofon tanpa kabel dan tanpa tiang penyangga. Ia tampak lugas menyampaikan gagasan-gagasannya. Wajahnya tegak, tak tertunduk. Sorot matanya merata disapukan ke hadapan audiens di depannya. Wiraga seperti ini menunjukkan kematangan emosi dan kemampuannya menguasai audiens.

Soal konten, materi pidato Prabowo cukup padat. Setelah berbicara tentang parpol-parpol pendukung dan keputusan memilih Hatta Rajasa sebagai wakilnya, ia menyampaikan beberapa pointers terkait negara dan demokrasi. Beberapa diksi yang ia gunakan cukup puitis, sehingga mengundang hadirnya emosi kebangsaan. Maka tak heran, saya melihat sesekali tepuk tangan riuh terdengar menanggapi materi pidato. Jadi respons audiens begitu kuat, tak hanya sebelum dan sesudah pidato.

Yap, demikian ulasan singkat tentang kepiawaian public speaking para capres kita. Anda-lah yang bisa memberikan penilaian terhadap keduanya. Dan lantas menjadi dasar, siapakah yang lebih baik kita pilih sebagai pemimpin negeri ini. [*]

Previous
« Prev Post

Related Posts

20.24

0 komentar:

Posting Komentar