Kisah Antara Ayah, Telur dan Tempe Gosong

Posted by Kang Hermanto on Selasa, 02 September 2014


Suatu malam, ibu yang bangun sejak pagi, bekerja keras sepanjang hari, membereskan rumah tanpa pembantu. Jam 7 malam ibu selesai menghidangkan makan malam untuk ayah. Sangat sederhana. Yakni berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambal teri dan nasi. Sayangnya karena mengurusi adik yang merengek, tempe dan telor gorengnya sedikit gosong!

Aku melihat ibu sedikit panik, tapi tidak bisa berbuat banyak. Minyak gorengnya sudah habis. Kami menunggu dengan tegang apa reaksi ayah yang pulang kerja pasti sudah sangat capek, melihat makan malamnya hanya tempe dan telur gosong.

Luar biasa! Ayah dengan tenang menikmati dan memakan semua yg disiapkan ibu dengan tersenyum dan bahkan berkata,”Bu terima kasih ya!” Lalu ayah terus menanyakan kegiatanku & adik di sekolah.

Selesai makan, masih di meja makan, aku mendengar ibu meminta maaf karena telor dan tempe yg gosong itu. Dan satu hal yg tak pernah kulupakan adalah apa yang ayah katakan. Yakni, “Sayang, aku suka telor dan tempe yang gosong.” 

Sebelum tidur, aku pergi untuk memberikan ciuman selamat tidur kepada ayah sambil bertanya, ”Apakah ayah benar-benar menyukai telur dan tempe gosong?”

Ayah memelukku erat dengan kedua lengannya dan berkata, “Anakku, ibu sudah bekerja keras sepanjang hari dan dia benar – benar sudah capek. Jadi sepotong telor dan tempe yang gosong tidak akan menyakiti siapapun kok!”

“Belajar menerima kesalahan orang lain, adalah satu kunci yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat, bertumbuh dan abadi," tukas beliau lagi.

Ayah juga mengingatkan bahwa emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang ada, jadi selalulah berpikir dewasa. Mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi pasti punya alasannya sendiri.

Janganlah kita menjadi orang yang egois hanya mau dimengerti, tapi tidak mau mengerti. Aku terdiam... [anonim; di-edit seperlunya]

Previous
« Prev Post

Related Posts

18.13

0 komentar:

Posting Komentar