Fenomena Dimas Kanjeng Taat Pribadi

Posted by Kang Hermanto on Rabu, 14 Desember 2016



Kali ini saya mengetengahkan masalah sosial tentang Dimas Kanjeng Taat Pribadi (DKTP) yang fenomenal. Ya, seorang “raja” yang baru-baru ini menggegerkan media nasional. Sosok yang memiliki padepokan dengan pengikut lebih dari 23 ribu orang ini ditangkap oleh Polda Jawa Timur pada 22 September 2016 lalu dan dijadikan tersangka atas pembunuhan 2 (dua) orang pengikutnya.[1] Selain itu, ia didakwa juga terkait penipuan dengan modus penggandaan uang. Berdasarkan laporan yang masuk dari para korban yang tersebar di sejumlah kota besar di Indonesia, terhitung kerugian ratusan milyar rupiah. Itu baru dari yang sudah melapor, yang jumlahnya sekitar seratusan orang saja.
Nah, kiranya menarik untuk mengulas masalah sosial yang satu ini. Penulis meyakini, kita dapat meninjaunya dari lebih dari satu perspektif. Penjelasannya sebagai berikut:

a)   Perspektif Teori Struktural Fungsional
Menurut teori ini, masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian atau elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Perubahan yang terjadi pada satu bagian akan membawa perubahan pula terhadap bagian yang lain.[2] Secara ekstrim Robert K. Merton dan penganut teori ini beranggapan bahwa semua peristiwa dan semua struktur adalah fungsional bagi suatu masyarakat.
Dalam fenomena DKTP, terdapat penekanan pada keteraturan (order) dan mengabaikan konflik dan perubahan-perubahan dalam masyarakat. Keberadaan “santri” (baca: pengikut) yang menyetorkan mahar terlihat sebagai suatu pranata yang fungsional terhadap Padepokan DKTP.
Di sini kita menemukan konsep dari Merton tentang fungsi, yaitu tentang fungsi manifes dan fungsi laten. Fungsi manifes adalah fungsi yang diharapkan (intended). Fungsi manifes dari fenomena DKTP adalah untuk memperbaiki kesejahteraan para pengikut dan diperolehnya ketenangan hidup. Sedangkan fungsi laten adalah sebaliknya yakni fungsi yang tidak diharapkan. Dalam hal ini, fungsi latennya adalah menyediakan pengikut yang terus menyediakan uang melalui penyetoran mahar yang memungkinkan peningkatan kekayaan bagi DKTP dan para sultan/ pengurus yayasannya.

b)   Perspektif Teori Interaksionisme Simbolik
Menurut Mead, manusia mempunyai sejumlah kemungkinan tindakan dan pemikiranya sebelum ia memulai tindakan yang sebenarnya dengan melalui pertimbangan. Karena itu, dalam tindakan manusia terdapat suatu proses mental yang tertutup yang mendahului proses tindakan yang sesungguhnya. Berpikir menurut Mead adalah suatu proses individu berinteraksi dengan dirinya sendiri dengan memilih dan menggunakan simbol-simbol yang bermakna.[3]
Simbol atau tanda yang diberikan oleh manusia dalam melakukan interaksi mempunyai makna-makna tertentu, sehingga dapat menimbulkan komunikasi.  Menurut Mead, komunikasi secara murni baru terjadi bila masing-masing pihak tidak saja memberikan makna pada perilaku mereka sendiri, tetapi memahami atau berusaha memahami makna yang diberikan oleh pihak lain.
Dalam hal masalah DKTP, pemimpin padepokan memainkan simbol-simbol yang menyiratkan bahwa ia adalah sosok yang mampu menghadirkan solusi-solusi bagi masalah kehidupan para pengikutnya. Ia beraksi dengan dalih mampu mendatangkan uang gaib dan melipatgandakan uang mahar yang disetorkan. Ia bangun masjid, kantor, asrama, yayasan dan lahirkan program-program bertajuk peduli pada fakir miskin. Dengan demikian, semakin meyakinkan bahwa semua yang dilakukan oleh DKTP adalah untuk kebaikan masyarakat.
Padahal di balik itu semua, ia sibuk memperkaya diri dan keluarganya. Hingga akhirnya dia pun beristri 3 (tiga). Semua istri dan anak-anaknya dicukupi kebutuhan hidupnya secara mewah. Taruh saja sekedar acara ulang tahun yang menelan biaya hingga ratusan juta rupiah. Begitu pula dengan para sultan/ pengurus, menduplikasi “kelakuan” pimpinannya. Padahal tidak ada bisnis riil yang dijalankan. Tumpukan uang yang digunakan bersumber dari pengumpulan mahar yang nilainya ditaksir hingga triliunan rupiah.

c)   Perspektif Teori Konflik
Teori Konflik adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. Tokoh teori ini adalah Ralp Dahrendorf.
Teori ini bertentangan dengan Teori Struktural Fungsional. Teori ini menyatakan bahwa manusia senantiasa berada dalam proses perubahan yang ditandai oleh pertentangan yang terus menerus di antara unsur-unsurnya.[4] Teori ini melihat bahwa setiap elemen memberikan sumbangan terhadap disintegrasi sosial. Teori ini juga menilai keteraturan yang terdapat dalam masyarakat itu hanyalah disebabkan karena adanya tekanan atau pemaksaan kekuasaan dari atas oleh golongan yang berkuasa.
Dalam hal masalah DKTP, puncak adanya disintegrasi adalah ketika sebagian pengurus menginsyafi kesalahannya selama ini. Kedok padepokan yang selama ini tertutup rapat, mengusik mereka untuk membukanya kepada khalayak. Mereka mulai menyadari bahwa yang dilakukan selama ini hanyalah tipu muslihat semata. Dan apabila hal tersebut terjadi, jatuhlah Si DKTP. Hancurlah “citra” dan “perniagaan” yang dibangun selama ini.
Ritzer menjelaskan bahwa pertentangan itu terjadi dalam situasi di mana golongan yang berkuasa (dalam kasus ini, “Sang Raja” DKTP) berusaha mempertahankan status-quo sedangkan golongan yang dikuasai (pengurus padepokan yang mulai sadar) berusaha untuk mengadakan perubahan-perubahan. Dalam situasi ini, tidak menutup kemungkinan segala jalan akan ditempuh oleh penguasa, termasuk hingga jalan kriminal.

d)  Perspektif Teori Pertukaran Sosial
Teori Pertukaran Sosial menyatakan bahwa dalam sebuah hubungan sosial terdapat unsur ganjaran, pengorbanan dan keuntungan yang saling mempengaruhi.[5] Teori ini menjelaskan bagaimana manusia memandang tentang hubungan kita dengan orang lain sesuai dengan anggapan diri manusia tersebut terhadap:
1. Keseimbangan antara apa yang di berikan ke dalam hubungan dan apa yang dikeluarkan dari hubungan itu.
2.  Jenis hubungan yang dilakukan.
3.  Kesempatan memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain
Dalam kalimat yang lebih sederhana, menurut teori ini, hubungan antarmanusia didasarkan pada perhitungan untung-rugi. Bagi para pihak yang terlibat, tentu saja mereka menyoal tentang keuntungannya. Sedangkan kerugian justru dirasakan oleh orang-orang di luar sistem.
Bertolak dari perspektif ini, maka masalah DKTP juga dapat dijelaskan melalui Teori Pertukaran Sosial. Pemimpin padepokan dan para sultan memiliki hubungan gelap yang saling menguntungkan. Di antara mereka terdapat sirkulasi finansial yang luar biasa. Begitu pula dengan sejumlah tokoh agama yang kerap hadir ke padepokan. Ia tampak seolah abai dengan fenomena “nyeleneh” padepokan. Hal ini mengingat_berdasarkan informasi dari narasumber_sekali hadir memberikan ceramah, sang tokoh mendapat imbalan lebih dari Rp 25 juta.
Pihak yang lantas merasa dirugikan ialah para pengikut yang sadar bahwa uang maharnya raib. Dan janji tentang pelipatgandaan uang itu hanyalah janji. Pencairan tidak kunjung direalisasi, yang ada hanyalah penambahan uang mahar. Terus seperti itu dari waktu ke waktu.





[1] http://www.jawapos.com/read/2016/10/05/55257/sejarah-padepokan-dimas-kanjeng-berawal-dari-sebuah-musala-kecil
[2] Ritzer, George. 2014. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Penyadur: Dr. Alimandan. Jakarta: Rajawali Pers; hlm. 21
[3] Ritzer, George & Goodman, Douglas J. 2016. Teori Sosiologi, Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Penerjemah: Nurhadi. Bantul: Kreasi Wacana Offset; hlm. 383
[4] op.cit.; hlm. 27
[5] Pengantar Teori Komunikasi 1 (Indonesian). Penerbit Salemba. ISBN 9789791749220.

Previous
« Prev Post

Related Posts

17.32

0 komentar:

Posting Komentar